BPTM LIPI Menawarkan Teknologi Smelter Nikel Berinvestasi Rendah

0
236

Bijih nikel laterit (dengan kandungan <2.5% Ni) telah ditetapkan sebagai salah satu mineral strategis karena dapat menjadi bahan baku pembuatan logam stainless steel menggantikan bijih nikel sulfida. Berdasarkan data Kementerian ESDM, cadangan bijih nikel di Indonesia kurang lebih sebanyak 700 juta ton, sedangkan potensinya hingga mencapai 3 milyar ton. Mahalnya biaya investasi pengolahan bijih nikel laterit menjadi logam Nickel Pig Iron (NPI) ataupun ferronickel (sebagai bahan baku pembuatan stainless steel) menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi oleh industri tambang. Oleh karena itu, guna mengatasi permasalahan tersebut Kementerian ESDM mengeluarkan kebijakan relaksasi ekspor mineral untuk yang kedua kalinya yaitu melalui Permen ESDM No. 5 Tahun 2017 dengan memberikan ijin ekspor bijih nikel laterit bagi industri tambang yang telah berkomitmen untuk mendirikan smelter hingga tahun 2022. Namun, pada tanggal 2 September 2019, relaksasi ekspor bijih nikel laterit diperpendek waktunya oleh Kementerian ESDM menjadi hingga 31 Desember 2019. Terhitung sejak 1 Januari 2020 maka industri tambang dilarang melakukan kegiatan ekspor bijih nikel laterit. Kebijakan ini menjadi dilema bagi pagi industri tambang yang mengandalkan biaya investasi pembangunan smelter dari aktivitas ekspor mineral tersebut. Hingga Tahun 2018 tercatat hanya terdapat 27 industri peleburan mineral yang telah beroperasi, di mana 17 diantaranya adalah smelter nikel.

Balai Penelitian Teknologi Mineral LIPI telah mengembangkan sebuah tungku peleburan pengolahan bijih nikel laterit menjadi logam NPI dengan investasi yang relatif lebih rendah, yaitu menggunakan Hot Blast Cupola Furnace. Biaya investasi hot blast cupola furnace jauh lebih murah dibandingkan dengan Blast Furnace. Tungku peleburan ini diklaim mampu mengolah bijih nikel laterit dengan kandungan 1,8% Ni menjadi logam NPI dengan kandungan 8-12% Ni. Tungku ini menggunakan bahan bakar/reduktor kokas dengan rasio penggunaan kokas terhadap bijih nikel laterit sebesar 0,3 (rasio kokas terhadap logam NPI adalah 2,5~3) dengan temperatur peleburan hingga mencapai 1500oC. Saat ini BPTM-LIPI telah memiliki pilot plant Hot Blast Cupola Furnace dengan kapasitas 3 ton NPI/hari. Pengembangan teknologi Hot Blast Cupola Furnace telah dilakukan sejak tahun 2012 melalui pendanaan kegiatan Unggulan-LIPI dan Program Insinas Kemenristekdikti. Saat ini tengah dilakukan pembangunan smelter nikel laterit menggunakan Teknologi Hot Blast Cupola Furnace di PT. Integra Mining Nusantara, Konawe Selatan.

Diharapkan dengan telah dikembangkannya teknologi smelter berinvestasi rendah tersebut dapat semakin mendorong tumbuh kembangnya industri smelter di Indonesia, sehingga mampu mewujudkan kemandirian bangsa di bidang pengolahan dan pemurnian mineral, dengan target sebanyak 57 smelter pada tahun 2022 dapat terwujud.

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Please enter your name here